Rabu, 18 Desember 2019

Pengalaman Sakit TB Paru pada Anak


Bismillah kali ini mau sharing cerita soal anak-anak saya yang terkena penyakit TB Paru.

Hasil Ronsen Positif TB Paru


Bulan Agustus 2019 qadarullah adek Huda (10 bulan) harus dirawat inap di RS karena sakit asma akut. Saat itu adek disuruh ronsen dada dan saat hasil ronsen keluar diketahui kalau ade terkena TB Paru.

Setelah keluar dari RS, saya konsultasi dengan dokter kira-kira apa penyebab ade bisa terkena penyakit TB Paru. Jadi penyakit TB adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Tubercolosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru-paru, namun tidak jarang pula bakteri dapat memengaruhi bagian tubuh lainnya. Untuk mengetahui penyebab penyakit TB ada beberapa hal yang dokter tanyakan kepada saya :


1. Apa di keluarga ada yang terkena penyakit TB Paru dewasa aktif dan menular?

2. Tanda klinis anak (Apakah anak sering batuk-batuk lama 3 minggu lebih, berat badan anak tidak naik beberapa bulan berturut-turut, anak lesu tidak aktif dll)


Jika dilihat dari klinis anak, adek tidak pernah batuk-batuk lama, tidak lesu dan selalu aktif. Di rumah juga tidak ada yang menderita TB aktif dan menular. Tapi keluarga kakak  qadarullah terkena penyakit TB, tertular dari pengasuhnya, saat itu masih dalam pengobatan rutin. Untuk pertumbuhan adek memang agak terhambat. Jadi semenjak usia 6 -10 bulan kenaikan berat badan adek/bulan memang dikit di bawah standar kenaikan. Tapi karena BBnya masih di kurva hijau saya gak begitu khawatir, mungkin adaptasi MPASI pikir saya. 

Karena TB ini menular, akhirnya dokter juga menyarankan agar si abang (2 tahun) dironsen juga untuk memastikan abang terkena TB atau tidak. Saya menuruti saran dokter, abang dironsen dan qadarullah ternyata paru2ny ada flek sehingga abang juga terindikasi terkena TB :((

Abang juga ga ada batuk-batuk dan lesu. Untuk pertumbuhan BB abang memang ga bagus sih. Abang susah makan, picky, kalau sakit suka agak lama sembuhnya, BB pernah gak naik beberapa bulan dan ada benjolan kecil di bagian leher.

Tes Mantouk Positif TB paru


Untuk memastikan penyakit TB, dokter akhirnya menyarankan agar anak-anak tes Mantouk. 
  • Tes Mantoux atau tuberculin skin test (TST) adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui adanya paparan kuman TB pada tubuh. 
  • Dilakukan  dengan cara menyuntikkan larutan tuberkulin (protein kuman TB) di bawah kulit 
  • Setelah proses penyuntikan, biasanya akan didiamkan hingga 48-72 jam untuk memperoleh hasilnya.
  • Jika pada bekas suntikan muncul benjolan kurang lebih 10mm, maka hasil tes bisa dikatakan positif menderita TB.
Benjolan yang muncul setelah disuntik protein kuman TB (sumber google)

Setelah disuntik siang-siang, sorenya langsung keluar benjolan di tangan adek dan abang. Benjolan adek diukur 12mm, benjolan di tangan abang setelah diukur 1cm dan mereka berdua  dinyatakan  positif TB :(

Biaya untuk ronsen dan tes mantouk di RS sekitar 300-400rb/ orang.

Penularan Penyakit TB


Karena anak-anak dinyatakan positif TB, maka dokter anak menyarankan saya dan keluarga terdekat untuk ronsen juga khawatir jika saya dan keluarga terdekat terkena TB. Akhirnya saya, suami, pengasuh dan nenek kakek juga melakukan tes ronsen dan alhamdulillah tidak ada yang terkena TB.

Penyakit TB ini ditularkan melalui udara bukan kontak permukaan. Ketika penderita TB paru aktif batuk, bersin atau bernyanyi, bakteri akan terbawa keluar dari paru-paru menuju udara. Seseorang dapat tertular TB jika menghirup bakteri tersebut. TB biasanya tidak ditularkan dengan kontak singkat, maka dari itu saat seseorang terkena TB, penghuni rumah yang kontak erat dengan pasien harus dironsen juga karena khawatir tertular.


Penyebaran bakteri TB

Hal ini juga yang menyebabkan jika orang dewasa terkena penyakit TB wajib menggunakan masker agar tidak menularkan ke orang lain. 

Menurut dokter, anak-anak di bawah usia 9 tahun yang terkena penyakit TB juga tidak akan menularkan bakteri ke yang lain. Penjelasan ini cukup menenangkan saya, karena anak-anak akan tetap bisa bermain bebas dengan teman sebayanya. 


Mulai Pengobatan 



Pengobatan TB ini dilakukan secara rutin setiap hari selama 6 bulan. Pengobatan ini dibagi menjadi 2 tahap :

1. Tahap Intensif (2 bulan)
  • Tahap intensif ini bertujuan agar bakteri pada sel inti mati, sehingga pengidap TB tidak menularkan bakteri ke orang lain. Pengobatan intensif ini memang ampuh untuk mematikan bakteri TB. Tapi ada beberapa bakteri yang masih "tertidur" dan sudah kebal obat sehingga butuh pengobatan lebih lanjut ke Tahap Lanjutan.
  • Pada fase ini anak-anak diberikan obat isoniazid (INH), rifampisin (RIF), pirazinamid (PZA) dalam bentuk serbuk, juga diberikan vitamin Curvit karena obat TB memberikan efek ke lambung. Biaya untuk obat kurang lebih 75rb (3 obat utama) untuk 1 bulan.
  • Sebenernya untuk pengobatan TB ini gratis di Puskesmas karena program pemerintah, tapi obat yang diberikan pemerintah bentuknya tablet. Jujur saya agak kesusahan ngasihnya kalau tablet karena anak-anak masih bayi dan batita, kalau digerus setiap hari juga cape jadi saya putuskan berobat ke dokter anak swasta aja sehingga yang didapat obat serbuk sekalian kontrol perkembangannya.
2. Tahap Lanjutan (4 bulan)
  • Tahap lanjutan ini bertujuan untuk menyingkirkan bakteri yang masih "tertidur" dan bakteri yang resisten (kebal) sehingga bakteri tidak muncul lagi.
  • Pada fase ini anak-anak hanya diberikan 2 obat isoniazid (INH), rifampisin (RIF) dan vitamin Curvit. Dosisnya pun berbeda dari yang diberikan 2 bulan awal. Biaya untuk obat kurang lebih 50rb (2 obat utama) untuk 1 bulan.

Suka Duka


Saat artikel ini ditulis alhamdulillaah anak-anak telah menjalani pengobatan selama 4 bulan. Di bulan pertama merupakan fase yang berat karena anak-anak dipaksa harus minum obat dan itu susahnya minta ampun. Menjaga konsistensi ngasih obat setiap pagi juga masih berat untuk saya, kesabaran saya benar-benar diuji kala itu. Jika mau pergi menginap di tempat lain obat juga harus selalu dibawa karena tidak boleh terlewat satu hari pun.

Setelah 1-2 bulan alhamdulillah anak-anak mulai terbiasa minum obat walaupun masih harus dipaksa tapi tidak seperti dulu sampai nangis2. Efek obat juga sudah mulai terasa. Daya tahan tubuh anak cukup baik dan nafsu makan anak bertambah. Sehingga dalam 2 bulan pertama abang dan adek naik berat badan sampai 1 kg. Alhamdulillah 


Hal-hal yang Harus Diperhatikan 


  • Jika anak-anak ternyata positif TB, maka orang tua harus tetap tenang. Ikuti alur prosedur pemeriksanaan dan pengobatan secara ikhlas dan sabar, insya Allah anak kita akan sembuh total.
  • Urin anak-anak akan berubah jadi merah/orange saat konsumsi obat, itu hal yang wajar.
  • KONSISTENSI dalam pemberian obat itu sangat penting. Jika terlewat berhari2 maka bisa jadi pengobatan sudah tidak efektif dan waktu pengobatan malah jadi lebih lama lagi 
  • Menurut dokter nanti akhir bulan ke 6, anak-anak tidak perlu dironsen lagi untuk menyatakan bahwa bakterinya hilang. Kenaikan berat badan anak yang baik sudah menunjukkan bahwa obat bereaksi dengan baik dan bakteri Tb sudah mati. Bismillah

Sekian pengalaman saya tentang anak saya yang terkena penyakit TB, semoga bermanfaat :)


** UPDATE 2020-03-08**


Alhamdulillah setelah 6 bulan penuh konsumsi obat akhirnya selesai sudah pengobatan TB Paru abang dan adek. Minggu ini saya sudah kontrol lagi ke dokter dan abang adek dinyatakan sudah sembuh *sujud syukur.* Obat pun sudah habis tanpa perlu ada perpanjangan obat.

Menurut dokter selama 6 bulan perkembangan klinis abang adek cukup baik, tidak ada sakit demam yang lama (1-2 minggu), daya tahan tubuh baik, dan kenaikan berat badan juga signifikan. Berarti tubuh abang adek tidak resisten terhadap obat dan pengobatannya berjalan baik. Alhamdulillah allhamdulillah. 

Sehat selalu ya sayang-sayangku :")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar