Senin, 16 Maret 2015

Menjadi Pengendara yang Bijak

Bisa mengendarai kendaraan sendiri, baik motor maupn mobil, merupakan keinginan saya dari sejak kecil. Sejak kecil saya dilatih oleh bapa agar bisa mengendarai dua kendaraan tersebut agar saya mandiri, agar saya bisa pergi kemanapun tanpa merepotkan orang lain, dan alhamdulillah izin untuk mengendarai kendaraan motor dan mobil sudah saya kantongi dari sejak kuliah.

Tahun ini saya memutuskan untuk mengendarai motor dari kosan ke kantor begitu pula sebaliknya, Hal ini saya lakukan demi mengefektifkan waktu dan menghemat pengeluaran bulanan. Namun, mengendarai motor disini ternyata lebih berat dibanding di Bandung. Lebih berat disini adalah lebih berat saat menghadapi pengendara lainnya. Sebenarnya jalan di bandara Soekarno Hatta ini termasuk sangat lebar, Jalan utamanya terdiri dari dua jalur, setiap jalur terdiri dari tiga lajur untuk mobil dan satu lajur untuk motor. Memang sangat lebar untuk ukuran jalan di dalam bandara. Namun etika pengendara disini yang harus disoroti. Banyak mobil yang memakai lajur motor ketika macet, sehingga pengendara motor harus berjalan lambat di belakang mobil yang melanggar peraturan tersebut. Hal ini yang sangat saya kesalkan, Apakah pengendara mobil yang melanggar tersebut tidak menghargai pengendara lainnya? Apa mereka tidak bisa patuh dengan jalur yang telah mereka punya, toh kendaraan lainnya juga berjalan dengan antri di jalurnya, Apa kepentingan pengendara sehingga harus melanggar peraturan?

Ah! Marilah menjadi pengendara yang bijak. Pengendara yang taat peraturan, Demi kebaikan kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar