Selasa, 07 Agustus 2018

Resensi Novel Anak Semua Bangsa - Pramoedya Ananta Toer

Hari ini lagi tidak begitu banyak kerjaan di Bajuyuli, agar tetap produktif akhirnya saya memutuskan untuk merapikan file-file di laptop dan hardisk. Sampai akhirnya saya menemukan file resensi novel Tetralogi Buru ini. Hehe masih teringat  kalau dulu saya "dipaksa" oleh pacar (sekarang jadi suami) untuk baca novel ini sampai buat resensi segala wkwk. Oia seingat saya, saya sudah baca keempat seri novel Tetralogi Buru ini, tapi hanya ada dua judul saja yang saya resensi. Yuk ah langsung dibaca aja yaa :)


Di awal kisah, diceritakan perjalanan Annelis menuju Nedherland, perlakuan orang Eropa yang tidak merawat baik Annelis dan berakhir pada kematian Noni Annelis. Selanjutnya buku ini mengisahkan perjalanan hidup Minke dan Nyai Ontosoroh setelah kehilangan Annelis. Banyak hal yang terjadi setelah peristiwa kematian Annelis, Robbert Suurhoft yang ternyata seorang pencuri, Nyai Ontosoroh dan Minke yang bertemu dengan sanak family kakak Nyai Ontosoroh, Kartini yang juga mengabarkan keadaan hindia hingga ke Nedherland sana, Robbert Mellema ternyata telah menghamili seorang pekerja Nyai hingga pekerja tersebut melahirkan seorang anak yang pada akhirnya diakui oleh Nyai sebagai cucu Nyai, Robbert Mellema yang mati karena penyakit di negeri orang, si gendut yang ternyata adalah mata-mata Herbet De La Croix yang bertugas untuk mengamati tindak tanduk Minke, terbongkarnya masa lalu tuan Mellema yang melakukan pemerasan dan perampasan lahan pribumi untuk kepentingan perusahaan gula, pengadilan yang berlarut-larut untuk menjatuhkan Minke dan Nyai Ontosoroh, Jepang yang mendapatkan kedudukan sejajar dengan bangsa Belanda di Hindia, Minke yang ingin pergi meneruskan pendidikan menjadi dokter di Batavia, dan lain-lain.


Konflik yang terjadi pada buku ini sebagian besar lebih bercerita tentang konflik pada diri Minke sendiri. Bagaimana dia dianjurkan oleh Bunda, Kommer, dan Jean Marais untuk menulis dalam Bahasa Melayu sedangkan Minke sendiri bersikukuh tidak ingin menulis dalam Bahasa Melayu. Bagaimana seorang Minke yang mengagung-agungkan Eropa di atas segala-galanya. Bagaimana seorang Minke yang ternyata tidak mengenal kebudayaan bangsanya sendiri sampai suatu hari Minke bertemu dengan Trunodongso dan berusaha untuk memahami bangsanya lebih jauh. Pertemuan dengan Koh Ah Soe yang membuka mata Minke tentang perjuangan bangsa-bangsa lain untuk diakui di mata Eropa. Pertemuan Minke dengan Ter Haar yang menceritakan berbagai cerita tentang Eropa, Hindia, Fhilipina dengan sudut pandang yang berbeda sehingga lebih membukakan mata Minke yang penuh dengan ketidaktahuan. Hingga Minke menyadari bahwa dia adalah bayi semua bangsa yang harus menulis dalam bahasanya untuk kepentingan bangsanya.

Menurut saya pribadi, buku Bumi manusia lebih menarik dibandingkan buku anak semua bangsa ini. Konflik pada buku bumi manusia lebih heterogen sehingga lebih menarik sih kalau menurut saya. Tapi secara keseluruhan buku anak bangsa lebih memberikan pengetahuan tentang keadaan dunia saat itu. Tidak melulu soal Hindia Belanda saja yang dibahas, tetapi dibahas juga Jepang, Cina, Fhilipina, Spanyol, hingga Amerika sehingga lebih menambahkan gambaran dunia pada masa lalu. Ending dari cerita buku anak semua bangsa ini juga agak gantung sih. Jadi di-ending cerita diceritakan pertemuan Nyai Ontosoroh, Minke, Jean marais, May, Darsam, dan Kommer yang berhadapan langsung dengan Ir Maurits Mellema. Pada kondisi itu digambarkan Ir Maurits Mellema yang tidak berdaya atau tidak memliki power untuk menanggapi semua omongan Nyai Ontosoroh dkk. Ir Maurits Mellema hanya meminta maaf dan menyerahkan koper Nona Annelis, tanpa meminta kembali perusahaan sebagai pewaris tunggal dan langsung pergi meninggalkan kediaman Nyai Ontosoroh. Jadi ya belum jelas apakah si perusahaan itu bakal diambil oleh Ir Maurits mellema atau masih tetap diurus oleh Nyai Ontosoroh.

#Baca Resensi Novel Jejak Langkah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar