Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Senin, 12 April 2021

Pengalaman Anak Isolasi di Rumah Sakit Suspect Covid




Bismillah mau sharing pengalaman yang menguras emosi dan jiwa raga. Cerita ini sebagai pengingat bahwa Allah tidak membebani diluar kemampuan hamba-Nya. Pengingat bahwa kematian sangatlah dekat. 

Masuk UGD


Setelah hampir 4 hari abang demam, batuk dan sesak akhirnya saya dan suami memutuskan untuk bawa abang ke UGD RS Hermina Bandung. Sesampainya di UGD, abang langsung dironsen dan didapat bahwa paru-paru abang mengalami infeksi. Setengah paru-parunya putih yang artinya sudah terjadi pertukaran O2 dengan CO2. Subhanallah.


Dokter anak bilang abang sakit pneumoni dan kondisinya sudah gawat. "Banyak-banyak doa ya Bu." Hati langsung hancur, nangis terus-terusan dan berdoa semoga abang bisa pulih lagi.

Abang harus masuk ke ICU. Tapi harus masuk juga isolasi covid, karena gejala mirip-mirip covid (suspect). Sakit covid atau tidaknya harus ditentukan dengan tes PCR sebanyak 2x. Jadi selama menunggu hasil PCR keluar, abang harus dirawat di ICU Isolasi Covid. 

Masuk Ruang Isolasi


Sebagai pasien suspect, abang sendirian di ruangan dan tidak disatukan dengan pasien positif. Alhamdulillah. Di ruangan ICU Isolasi covid juga ada cctv di dalamnya untuk memonitor pasien yang gawat.


CCTV di kamar ICU Isolasi


Untuk pasien suspect/positif dewasa tidak boleh ditemani. Tapi untuk anak-anak ada pengecualian. Boleh ditemani salah satu orang tua dengan syarat hasil antigen negatif dan memakai full APD karena takut terpapar virus. APD juga tidak boleh dipakai berulang-ulang, jadi hanya sekali pakai.

Karena abang masih berusia 4 th akhirnya saya putuskan untuk menemani abang di dalam. Hasil tes antigen saya juga negative. Pasrah berdoa kepada Allah semoga semua dimudahkan. 

Rincian APD yang dipakai:
- Gown/hazmat
- Sarung tangan latex
- Masker N95
- Masker medis
- Penutup kepala
- Penutup kaki
- Sepatu Booth (dipinjamkan RS)
- Faceshield (dipinjamkan RS)


Foto di ruang khusus APD sebelum masuk pintu isolasi (satu arah)


Pendamping tidak boleh makan dan minum di dalam ruang isolasi. Untuk BAK dan BAB juga awalnya tidak diperbolehkan tapi alhamduliah akhirnya ada suster yang membolehkan. Karena kebayang kesiksa banget seharian nahan BAK :(( 

Jika ingin keluar ruang isolasi, APD harus langsung dibuang dan wajib mandi terlebih dahulu. Jika ingin masuk kembali bisa pakai APD yang baru. Harga satu set APD sekitar 200rb/set dan bisa dibeli langsung di apotek rumah sakit. Untuk APD tidak ditanggung BPJS/Kemkes, waktu itu saya beli 5 set APD habis biaya 1jt.  


Saat menemani abang saya keluar sehari 1x untuk ketemu si bungsu (2,5th), makan berat, minum dan bersih-bersih kurang lebih selama 2 jam. Sedih memang meninggalkan abang sendirian di kamar isolasi, tapi ya mau bagaimana lagi karena saya tidak bisa gantian dengan suami, jadi saya harus keluar untuk istirahat. 

Menurut abang, selama saya pergi, tidak ada seorang pun perawat yang sering menengok kamar abang :( Hanya ada 1-2x perawat datang mengantar makan lalu pergi lagi.



Foto di ruangan sebelum pintu keluar ruang isolasi (satu arah)

Faceshield, booth, hazmat, APD sekali pakai dipisah per drum


Tempat bersih-bersih di pintu keluar ruang isolasi 



Selama di Ruang Isolasi


Ruang isolasi di rumah sakit Hermina Pasteur ada di lantai 5 dan lantai 6 (khusus VIP). Pasien covid cukup banyak tapi ada beberapa ruangan yang kosong juga. Menurut suster jumlah pasien sekarang jauuh berkurang dibanding awal-awal pandemi. Alhamdulillah


Lantai 5 ruang isolasi dan petugas ber-APD


Suster, apoteker, dokter, cleaning service yang bertugas di Ruang Isolasi juga memakai APD lengkap. Dari ruang isolasi sebesar itu, suster yang bertugas hanya 2-3 orang. Cleaning service 1 orang, apoteker 2 orang. Wajar ditempatkan petugas sesedikit mungkin untuk mengurangi kontak dengan pasien positif.

Jangan dibayangkan pelayanan optimal di ruang isolasi ya. Sepengamatan saya, ruangan dan WC dibersihkan hanya 1x sehari. Seprei kasur diganti jika basah banget. Makanan dikasihkan telat. Anak sarapan sekitar jam 07.00, makan siang bisa jam 13.00, makan malam bisa jam 19.00. 

Suster juga susah ditemui karena sangat mobile. Jika ada hal urgent kita bisa tekan bel dan terhubung dengan bagian admin ruang isolasi. Admin ruang isolasi juga memberi kabar kepada keluarga pasien jika ada kabar terbaru.

Di ruang isolasi juga saya melihat dengan mata kepala sendiri ada bayi positif usia 1 bulan ditinggal sendirian. Ada juga yang berpulang. Ada juga ibu bapak yang berjuang dengan ventilator. Sungguh sebaik-baiknya pengingat adalah kematian.

Untuk biaya selama di ruang isolasi itu ditanggung oleh Kementerian Kesehatan. Baik suspect/positif tidak mengeluarkan biaya. Mulai dari biaya kamar, dokter, perawat, obat, tes-tes, makan, dlsb. Alhamdulillah.


Hasil Tes PCR Negative



Tes PCR pertama dilakukan saat awal masuk UGD dan hasilnya baru keluar 2-3 hari setelahnya. Setiap ada suster visit, saya selalu menanyakan apa hasilnya sudah keluar atau belum, tapi jawabannya selalu belum. Hingga hari ke 3, tiba-tiba ada petugas lab yang masuk kamar dan bilang mau tes swab lagi. 

Masya Allah feeling saya langsung bilang kalau abang negative. Karena jika abang positif tidak akan ada tes swab lagi. Setelah dikonfirmasi alhamdulillah hasilnya negatif. Sujud syukur bahagia.

Hasil tes kedua didapat ketika saya keluar ruang isolasi untuk sahur karena itu adalah hari pertama ramadhan. Suster mengabari kalau hasil tes kedua abang negatif. Abang boleh pindah dari ruang isolasi. Alhamdulillaaaaaaah berkah ramadhan.

Kenapa tes PCR harus dilakukan 2x? Agar diagnosis hasilnya akurat, tidak false negative. 


Treatment 


Beberapa treatment yang dilakukan agar anak pulih dari sakit pneumonia antara lain : 

1. Pemberian oksigen

Awalnya pemberian oksigen melalui selang kecil di hidung, tapi saturasi abang tidak naik optimum hanya 92-94%. Akhirnya naik level ke masker oksigen, alhamdulillah setelah pakai masker oksigen saturasinya naik jadi 98-100%. 

Dokter bilang kalau dengan masker oksigen gak naik optimum, harus pakai ventilator. Alhamdulillah gak sampai perlu. 


2. Pemantauan saturasi dan detak jantung

Abang dipasang suatu alat di jempol kaki sehingga saturasi dan detak jantung langsung terhubung di monitor. Melihat monitor ini ngebuat trauma, apalagi kalau sampai bunyi. Karena kalau alatnya bunyi saturasi menunjukan di bawah 93%. Biasanya alat bunyi ketika anak lepas oksigen untuk makan. 


Oia saat di RS, suami membeli alat oxymeter yang sama percis seperti di RS agar bisa memantau saturasi anak. Alat saturasi anak berbeda dengan dewasa ya, karena jempol anak sangat kecil jadi alatnya harus fit pada jempol anak. 

Jika anak pakai alat saturasi orang dewasa, pengalaman saya hasilnya berbeda jauh. Tapi tenang, alat oxymeter anak juga bisa dipakai dewasa. Harga 400rb. 






3. Pemberian Infus

Antibiotik dan penurun demam diberi via infus. Untuk dosisnya saya kurang tahu, tapi memang cukup sering. Di hari ke-7 tiba-tiba abang demam lagi sehingga alat infus harus diganti posisinya, kasian.

4. Nebu 3x sehari

5. Fisioterapi dengan sinar infrared pada paru 1x sehari untuk pemulihan paru.

6. Obat antibiotik oral 2x sehari setelah makan.

7. Rontgen berkala. 

Selama di RS abang dironsen 4x untuk mengecek perkembangan paru-paru. Saat itu juga ada cairan di paru-paru abang alhamdulillah masih di batas normal dan cairan disebabkan karena pneumonia. 

8. Makan bubur 3x sehari/minum air hangat dan susu pediasure. 

Alhamdulillah setelah 4 hari di ICU dan 5 hari di perawatan biasa, abang bisa pulang dari RS. Tanda sudah boleh pulang antara lain tidak demam, sudah ceria, dahak sudah dikeluarkan via batuk dan pup, nafsu makan membaik dan paling penting anak sudah bisa bernafas tanpa oksigen (saturasi normal).

Pemulihan sakit pneumonia juga cukup lama. Saat pulang dari RS, kami dibekali obat antibiotik untuk satu bulan ke depan dan wajib kontrol 1 bulan setelah pulang RS. Saat kontrol 1 kemudian, abang ronsen kembali dan alhamdulillah semua normal. 

Abang sehat dari penyakit pneumonia yeay :)


Sugesti positif



Jujur pengalaman di ruang isolasi benar-benar membuat saya dan anak saya takut dan stress. Pantes banyak pasien covid lebih memilih isolasi mandiri di rumah jika kondisi sehat dibanding isolasi di rumah sakit, karena insya Allah recovery lebih cepat. 

Membayangkan berada sendirian di ruang isolasi tanpa ada support dari keluarga pasti hal yang sulit. Beberapa ruangan juga tidak ada sinar matahari yang masuk, sehingga sirkulasi udara juga kurang baik. Doa dan sugesti positif sangat dibutuhkan agar imun menjadi baik dan kondisi kembali sehat.

Semoga kejadian ini tidak pernah terulang lagi, semoga nakes sehat selalu, dan semoga semua yang sakit/terpapar lekas sehat kembali pulih. Aamiin 



Sehat seterusnya ya abang.
Ibu sayang abang. 



20 komentar:

  1. Innalillaahi, hati ikut potek pas baca abang sendirian pas teh Yuli pulang dulu :(. Semoga selalu sehat ya teh Yuli dan keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tehhh gak ada pilihan lain selain pulang dulu, awalnya saya kira pendamping bisa makan minum di ruang isolasi loh. Aamiin nuhun teh Linda :)

      Hapus
  2. Ya ampun hati aku ikut potek potek. Abang seumuran anak aku yang pertama. Dulu anakku juga pernah kena bronchopneumonia. Seminggu di ruang biasa saja dan nggak pakai oksigen saja ketar ketir setengah mati gimana teteh kemarin ��‍♀️...alhamdulillah sudah terlewati ya teh. Semoga kedepannya selalu sehat semua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyaaa semoga sekali aja kaya gini ya. Aamiin sehat-sehat untuk teh Restu sekeluarga yaa :)

      Hapus
  3. Aduh teh.. berat banget pastinya anak masuk ICU apalagi di kondisi seperti ini. Tahun lalu anakku dioperasi juga di jaman lockdown corona itu rasanya aja udah berdarah-darah di hati padahal gak sampe di ICU. Puji Tuhan sudah membaik ya teh si abang.. semoga terus sehat dan tumbuh dengan baik si abangnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah operasi apa teh Dea? alhamdulillah udah membaik ya. Aamiin sehat-sehat juga teh Dea sekeluarga :)

      Hapus
  4. Innalillahi.. Ya Alloh 😭 alhamdulillah udah terlewati yaa yul
    Semoga setelah ini sehat selalu semuanyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tehhh alhamdulillahh. Nuhun teh Gun, sehat-sehat jugaaa yah :D

      Hapus
  5. Kebayang perasaan campur aduk... Kemarin juga anak saya dirawat karena asma, rasanya patah hati banget...
    Semoga setelah ini kita semua sehat selalu ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah alhamdulillah udah sembuh ya teh Nat, saya juga pernah opname anak bungsu karena asma. Memang harus hati-hati ya, sehat-sehat semuanya tehhh :)

      Hapus
  6. Membaca tulisan ini aku ikut lemes, semoga anaknya makin sehat ya mbak. Semoga mbak sekeluarga semua juga tetap sehat dan kuat dan ga ada episode ke rumah sakit lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ngebuat lemes teh, heheu. Aamiin semoga teh Risna sekeluarga juga sehat-sehat yaa di sana :D

      Hapus
  7. Ya Allah..., kasian ya para nakes itu, segitu banyak pasien dihandel cuma 2 orang perawat apalagi pakai APD lengkap begitu.

    Alhmdulillah kakak udah sembuh ya teh, bacanya aja bikin saya tegang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tehh memang dikit nakesnya, sibuk banget ke sana ke sini. Gak kebayang kalau peak kaya gimana, semoga sehat-sehat semua nakes yaa.

      Hapus
  8. Alhamdulillah Abang sudah sehat yaa Teh. Selalu penasaran gimana kalau anak kecil harus diisolasi, ternyata potek hatiku bacanya huhuhu. Semoga Teteh sekeluarga sehat selalu yaa aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh Laksita hehe niat nulis cerita ini selain reminder untuk bersyukur juga sharing isolasi anak karena jarang banget kan yang mengalami. Aamiin teteh sekeluarga juga sehat-sehat di rantau yaa :)

      Hapus
  9. Kebayang stres nya teh :( tapi Ibu harus bisa berwajah tegar ya. Gak tega lihat balita dirawat begini. Alhamdulillah orangtua bisa menemani dan abang sudah sembuh ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya alhamdulillah banget bisa nemenin teh, ada bayi yang gak ditemani soalnya huhu. Alhamdulillah sudah sehat semua :)

      Hapus
  10. Ya Allah Teh, saya bacanya ikut deg2an, alhamdulillah udah pada sehat lagi, semoga sehat-sehat seterusnya yaa. Hebat Teteh bisa bertahan tetap optimis dan sabar dalam keadaan seperti itu! Selamat telah menjadi Ibu terbaik untuk anak-anak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin nuhun pisan ibuuu, berusaha optimis dan sabar padahal pengen nangis terus bawaannya. Sehat-sehat ibu Lenny sekeluarga :)

      Hapus